Opini: Ibadah Haji Menuju Reformasi Sosial

0

 

Andriyatno (Aktivis HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara)

Oleh : Andriyatno (Aktivis HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara)

Sebagaimana diketahui bahwa ibadah haji merupakan sebuah ritus peninggalan Nabi Ibrahim As, yang terus dilestarikan hingga saat ini. Semua bermula dari skenario Tuhan kepada Nabi Ibrahim As melalui bimbingan para Malaikat, agar Nabi Ibrahim As membawa anaknya yang bernama Ismail dan istrinya yang bernama Hajar, agar membawa mereka pergi kearah selatan dari Kan`an, terus kearah selatan sampai ke suatu lembah yang tandus dan gersang, tiada tetumbuhan (Q.S. Ibrahim : 37). Setelah sampai ke lembah tandus itu, sejalan dengan petunjuk Tuhan, Nabi Ibrahim As kembali ke Kan`an, tetapi sesekali ia sempatkan untuk menjenguk Ismail di Makkah, sampai Ismail dewasa.

Itulah skenario Tuhan kepada Nabi Ibrahim As, beliau dibimbing untuk membawa anaknya itu kelembah tersebut karena disanalah terletak rumah (bayt) suci yang pertama kali didirikan untuk ummat manusia (Q.S. Ali-Imran : 96), dimana lembah itu dinamakan Bakkah atau Makkah.  Pada waktu Ibrahim beserta anak dan istrinya sampai dilembah tandus itu, rumah suci tersebut tidak atau belum ada. Barulah setelah Ismail tumbuh dewasa, Tuhan memerintahkan agar Ibrahim dan Ismail mendirikan rumah suci tersebut (Q.S. Al-Baqarah : 127).

Karena bentuknya yang persegi empat, maka rumah suci dilembah tandus itu juga dikenal dengan sebutan Ka`bah, artinya “kubik”. Maka bangunan berbentuk kubik itulah memang “Rumah Suci” (al-bayt al-haram), sebagai tempat berlindung yang aman bagi ummat manusia (Q.S. Al-Maidah : 97). Atas dasar itu, pada hakikatnya ibadah haji merupakan tindakan menapak tilas Nabi Ibrahim As dan putranya Nabi Ismail As, dan juga merupakan pelestarian pengalaman keruhanian mereka, yang mana pengalaman itu mengandung makna dan menjadi sumber pelajaran bagi umat islam hingga akhir zaman. (Nurcholis Madjid, 2005, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Jakarta: Dian Rakyat).

Ibadah haji merupakan rukun islam yang terakhir, yang merupakan pelengkap dari rukun islam yang sebelumnya. Jika sholat dan zakat sering disandingkan didalam setiap ayat-ayat yang terdapat didalam Al-Qur’an, maka tidak demikian untuk ibadah haji. Ibadah haji merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim yang dewasa dan berakal (mukallaf) yang mampu dalam hal perbekalan, baik untuk berangkat maupun untuk pulang dari tanah suci Makkah, mampu dalam hal fisik, serta mampu memberikan tanggung jawab kepada keluarga yang ditinggalkan berupa nafkah untuk sehari-hari selama ditinggal ke tanah suci Makkah (Al-Imran: 97).

Maka pada hakikatnya, ibadah haji adalah sebuah ritual yang diwajibkan kepada seluruh ummat muslim yang dewasa dan berakal (mukallaf) serta yang mampu dalam hal perbekalan dan sehat secara fisik. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan, kemudian ia tidak pergi haji, maka ia tinggal memilih antara mati sebagai seorang yahudi atau seorang nasrani”. Seperti itulah ancama bagi siapa saja yang meninggalkan ibadah haji, sedangkan dalam keadaan mampu. Untuk itu bagi seorang mukmin tidak boleh menunda-nunda untuk menunaikan ibadah haji.

Pada hakiaktnya ritual ibadah haji merupakan pengagungan terhadap kehormatan-kehormatan Allah SWT dan syiar-syiar-Nya, sedangkan pengagungan itu menunjukkan ketaqwaan hati, dan didalamnya terdapat keutamaan yang sangat besar. Dan ibadah haji merupakan sebuah bentuk panggilan dari Allah SWT terhadap mereka yang memang benar-benar dipanggil oleh Allah SWT untuk menjadi tamu-Nya di tanah suci tersebut, yang kesemuanya berkumpul dari segala macam penjuru dunia, tidak membedakan Negara, paham, suku dan ras, semuanya berkumpul menjadi satu ditanah suci Makkah, untuk menunaikan panggilan Allah SWT tersebut, dan inilah titik temu (kalimatun sawa’) untuk mengharap ridla-Nya.

Lebih dari itu, bahwa ritual ibadah haji menurut AlImam Al Habib Abdullah bin Alwi Haddad didalam kitabnya yang berjudul Nasaihud Diniyah, dimana beliau menukil perkataan Hujjatul Islam Al Imam Ghazali, yang mengatakan bahwa “Allah SWT menjadikan perjalanan menunaikan haji sebagai contoh bagi perjalanan ke akhirat, maka hendaklah engkau renungkan pada setiap amal dalam perjalanan itu suatu urusan akhirat yang menyerupainya, ketika berpamitan dengan keluarga dan teman-teman dalam perjalanan itu, kita bayangkan perpisahan dengan mereka pada waktu- sakratul maut, barangsiapa mengambil bekal untuk dijalan, ia bayangkan mengambil bekal diakhirat.

    Mengenai jauhnya perjalanan dan rasa takut terhadap binatang buas serta penyamun dalam perjalanan itu, kita bayangkan jauhnya jalan akhirat, ujian Munkar dan Nakir serta siksaan kubur. Ketika memakai baju ihram, kita bayangkan tubuh kita terbungkus kain kafan, ketika berlari kecil antara Shafa dan Marwah, kita bayangkan mondar-mandir diantara sisi timbangan, mana yang lebih berat diantara kedua sisi timbangan itu. Dan ketika berwukuf, kita bayangkan tempat wukuf itu seperti tempat berkumpul dihari kiamat”

Apa yang dipaparkan oleh Hujjatul Islam Al-Imam Ghazali tersebut, menandakan bahwa ritual ibadah haji merupakan sebuah dimensi spiritual, yang pada hakikatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengingat tentang kematian dan alam akhirat. Dan dalam hal ini, iman bukan hanya saja diyakini oleh setiap ummat muslim, dan mempercayai eksistensi Allah secara taken for granted, namun dari itu ummat muslim harus membawa iman menuju “kesadaran keimanan” (faith consciousness) kehadirat Allah SWT.  Kesadaran keimanan (faith consciousness) inilah yang membawa seluruh ummat muslim yang ada dibelahan dunia untuk mengikuti prosesi ritual ibadah haji, dan akan mengalami sebuah puncak tertinggi berupa kesadaran tertinggi (the higher consciousness). Dalam kesadaran tertinggi (the higher consciousness) inilah ummat islam yang menunaikan ibadah haji, untuk merelakan dirinya, hartanya, keluarganya untuk semata-mata memenuhi panggilan-Nya dan semata-mata mengharap ridla-Nya.

Lebih dari itu, bahwa ritual ibadah haji selain terdapat didalam dimensi spiritual, sebagaimana telah dijelaskan, ibadah haji pada akhirnya akan menghasilkan apa yang disebut kesadaran ketuhanan (god consciousness). Dari kesadaran ketuhanan (god consciousness) inilah nantinya akan berujung pada reformasi dalam tatanan sosial, karena pada hakikatnya manusia sebagai Khalifah Fil Ard yang harus mengemban segala macam misi ketuhanan dalam seluruh aspek dan dimensi, baik spiritual (habluminallah) dan sosial (hablumminannas).

Reformasi sosial inilah yang tertuang pada predikat “Haji Mabrur”, dimana beragam pengertian yang diklasifikasikan oleh berbagai macam ulama tafsir dan hadist, seperti Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar Asqalani mengatakan bahwa “Haji mabrur adalah  haji yang maqbul, yakni haji yang diterima Allah SWT”. Lebih dari itu bahwa sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah berasal dari kata Al-Birr(kebaikan), yang dinukil dari Qs. Al-Baqarah : 177, yang pada intinya menjelaskan kedudukan kebajikan dalam tatanan dimensi sosial.

Jadi atas kata Al-Birr (kebaikan) itulah, predikat haji mabrur pada hakikatnya adalah bertambah kebaikan setelah menunaikan ibadah haji ditanah suci Makkah tersebut, dan dalam konteks Qs. Al-Baqarah :177, diharapkan bagi mereka yang sudah selesai menunaikan ibadah haji dan sesampainya pulang ketanah airnya masing-masing, mereka menunaikan sebuah kewajiban yang sangat berat, karena tidak hanya meningkatkan nilai ketaqwaan saja terhadap Allah SWT (hablumminallah), melainkan taqwa tersebut harus berujung sebagai proses kesadaran manusia dan sosial (hablumminannas), yang bergerak dinamis dan kualitatif, tak boleh taqwa berhenti hanya pada “sikap takut” an sich, begitu menurut (alm.) Buya Hamka dalam magnum opus-nya, melainkan dituangkan dalam amal shalih. Atas dasar itulah bila dikaitkan dengan Qs. Al-baqarah : 177 tersebut, menandakan bahwa implementasi haji mabrur adalah bergerak dinamis dan tidak statis dalam ketaqwaan kepada Allah SWT semata, melainkan memeras ketaqwaan tersebut menjadi sebuah ruang untuk terlibat lebih dalam dimensi sosial, guna mereformasikan keadaan sosial dan lingkungan sekitarnya.

Maka dari itu, perjalanan dalam ritual ibadah haji, baik dari segala macam konsekuensinya, pengorbanannya, keimanannya, akan berujung untuk mendapatkan predikat “Haji Mabrur”. Dan haji mabrur inilah yang pada akhirnya akan menghasilkan pada “kesadaran sosial”, karena dimensi agama adalah dimensi yang berhubungan kepada Allah (hablumminallah) dan berhubungan kepada masyarakat (hablumminannas). Dan untuk itu klaim “Haji Mabrur” tidak boleh diucap oleh mereka yang sudah selesai menunaikan ibadah haji, melainkan predikat “Haji Mabrur” tersebut Allah yang memberikan dan Allah yang tahu, dan “Haji Mabrur” tidak boleh disalah artikan dan disalah gunakan  untuk “klaim kebenaran” (claim of truth) dan “klaim keselamatan” (claim of salvation) untuk merendahkan mereka yang belum menunaikan ibadah haji atau kepada mereka yang berlainan agama.

Jadi jelaslah bahwa ritual ibadah haji ini merupakan sebuah ritual berdimensi spiritual yang akan menghasilkan dimensi sosial. Dan dari predikat “Haji Mabrur” itulah sebuah keharusan untuk seorang yang sudah menunaikan ibadah haji, untuk mereformasikan keadaan sosial dan lingkungan disekitarnya, karena Rasulullah SAW bersabda, “yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga adalah taqwa kepada Allah dan berbudi pekerti luhur”.

Ini tentu wajar sekali, dan dengan sendirinya benar, karena logika dari keinsyafan yang mendalam akan taqwa sebagai pengalaman (simbolik) kehadiran Allah dalam hidup ini adalah munculnya kesadaran sosial dan moral-etis manusia untuk berbudi pekerti luhur dan berperilaku jujur. Etika ini, tentu amat diperlukan manusia terlebih oleh yang menyandang predikat “Haji Mabrur” untuk membangun kesadaran moralitas bangsa dan membangun keperduliaan sosial. Reformasi sosial dari ritual ibadah haji inilah diarahkan untuk terwujudnya nilai-nilai moral dan sosial, yang senafas dengan nilai-nilai keislaman secara universal: keadilan, kebenaran, dan keberagaman.

 

Share.

Leave A Reply

CAPTCHA Image

*